TETAP SAJA DIA

“Sedari dulu pun penghianatan

Tetap

Kasih yang Dia perkenalkan”

Kemudian,

Si hawa bercela itu

Dibawa pada perayaan

dia berpikir,

perayaan itu adalah tanda kekalahan

tetapi,

justru perayaan atas penghianatan

adalah tanda kemenangan

lalu,

Si hawa bercela itu

Menyadari bahwa

“Sejauh apapun aku melangkah

Tetap

Yang ku rindukan Allah”

“Seluas apapun aku berpikir

Tetap

Dia di hati, bukan di alam pikir”

Seiring berjalannya waktu,

Si hawa yang telah di pilih itu

Merasa bahwa

 perayaan atas kemenangan itu

Menghantam keinginannya

dan

Berbenturan dengan kehendaknya

Sampailah, ia

Menyadari bahwa

Bagiannya kini adalah

Tetap

Pada satu tujuan kekal

Hingga dia kembali berpikir

bahwa

“Sebanyaknya aku tak tak T.A.A.T

Tetap

Sebanyak itu pula Dia beri H.I.K.M.A.T”

TTD

Rossy

Iklan

RATAPANKU, PERJUANGANKU Puisi Karya Rossy N

Semua tampak maya,
Tapi ketika kubuka, bukan itu sungguhan
Semua mungkin hanya lah film bersutradara,
Tapi ketika kubuka, bukan itu sungguhan

Semua itu nyata
Semua sudah terjadi
Gemetar tubuh ini tak sanggup mendengar
Berlutut tubuh ini tak sanggup menerima

Kebenaran Tampak Maya
Integritas Tiada
Jujur Tak Berharga
Korupsi Berjaya

Menutup kebenaran
Membuka kejahatan
Semua itu nyata
Semua itu terjadi

Ini aku
Dengan Ratapanku

Prostitusi berserak-serak
Mengambil tumbal generasi muda
Penipuan berserak-serak
Mengambil tumbal orang lemah
Semua tampak maya,
Tapi ketika ku buka, bukan itu sungguhan
Semua mungkin hanya lah film bersutradara
Tapi ketika ku buka, bukan itu sungguhan

Ini aku
Dengan perjuanganku

Aku harus membuka,
Aku harus memulai,
Aku harus berjuang
Itu berarti untuk mu
BANGSAKU

Aku sanggup
Aku tak gugup
membuka mataku,
Membuka untuk memulai
Memulai untuk berjuang
Berjuang untuk mu
BANGSAKU

Namun,
Aku tersadar
Hidup sebatas uap,
Sebelum uap itu hilang
Aku mau berjuang

Ini aku,
Dengan Perjuanganku

Negara Pengemis

Pengemis hidup dari belas kasihan orang yang mau berbelaskasih pada mereka. Namun, pengemis pun punya golongan. Mungkin seperti ungkapan Marx “ Kelas Sosial “ menjadi “ Kelas Pengemis. Kelas pengemis ini terdiri dari, pengemis tingkat bawah, menengah bahkan tingkat atas. Nah, pengemis-pengemis ini dapat dibedakan dari penampilan dan metode yang mereka gunakan. Metode pengemis kelas bawah biasanya lebih orientasi pada “ metode bodoh”, misalnya berpakaian kotor dan sobek lalu mengantungkan tangan menunggu recehan. Berbeda dengan pengemis kelas menengah, biasanya metode pengemis kelas ini menggunakan tanda tangan stakeholder untuk mempercantik proposal mereka dengan alasan bantuan dana untuk korban bencana. Padahal di manipulasi untuk mereka. Lain halnya dengan pengemis kelas atas biasanya golongan orang-orang kaya yang sasaran empuknya adalah orang kaya yang lebih kaya dari mereka.

Mengemis sudah dijadikan profesi untuk memperkaya diri dari hasil “mengantungkan”tangan. Profesi pengemis ini sudah pasti ditemukan bila negaranya menganut sistem “ pengemis” . itulah sebabnya, profesi ini sangat menjanjikan di negeri pengemis. Mentalitas pengemis itu buruk. Tidak ada usaha untuk bekerja. Taunya meminta sebagian milik orang. Pengemis pastinya memiliki mentalitas penipu, merusak harkat dan martabatnya sebagai manusia. Akan tetapi, sering sekali pengemis tidak menyadari dan kalau pun sadar , lebih memilih untuk tidak tahu bahwa martabatnya rendah. Itu dia si pengemis. Si pengemis dengan metodenya di negerinya pengemis.

Bersepeda Bersama Yesus


               Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat;seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus ♥, pandanganku berubah. 

             Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda. Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan.
              Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!” Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.
              Dan ketika aku berkata, “Aku takut!” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku. Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan… orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan… perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami. Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan. 
               Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh… menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus. Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata… “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu♥.” ♥♥♥